Kamis, 14 Januari 2010

cengeng

CENGENG

“Biasa!!! Perempuan suka cengeng….” Kata-kata itu seringkali kita dengar tatkala perempuan menangis menghadapi suatu masalah. Apakah hanya perempuan yang cengeng? Tentu tidak……

Cengeng adalah sifat bawaan manusia yang bisa menjangkit siapa saja, tanpa melihat jenis kelamin. Orang yang cengeng tidak harus ditunjukkan dalam bentuk menangis bila menghadapi suatu masalah. Orang yang cengeng adalah orang yang mudah patah hati, mudah sedih, mudah kecil hati dan mudah mundur atau lari dari setiap persoalan hidup yang dihadapi.

Allah menganugerahkan perasaan sedih di dalam hati setiap manusia, dengan berbagai derajat kepekaannya. Ada yang mudah sedih atau menangis hanya karena hal sepele, ada juga sedih karena hal yang luar biasa. Karena Allah yang menciptakan dan memberikan perasaan sedih, pasti Allah juga yang menganugerahkan cara untuk mengendalikan sedih agar tidak berubah menjadi sifat permanent atau luapan perasaan yang berlebihan.

Ketika sedih sudah berlebihan, baik dari segi waktu maupun ekspresinya, maka sedih sudah menjelma menjadi kecengengan.

Lalu, apa yang membuat seorang perempuan atau laki-laki memiliki sifat cengeng?

Terlalu menggantungkan diri pada orang lain.
Seringkali manusia sebagai mahluk lemah, menggantungkan diri pada orang lain, tanpa ada kepasrahan kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin. Misalnya urusan rejeki bergantung pada majikan, urusan mendidik anak bergantung pada guru, urusan cinta bergantung pada pacar atau suami atau istri.
Sebenarnya orang tidak harus menggantungkan diri kepada orang lain secara berlebihan. Misalnya urusan sekolah anak , kita tetap bertanggungjawab untuk mendidik sebaik-baiknya di rumah dengan pemahaman, sikap dan prilaku yang dapat dicontoh oleh anak-anak kita serta mendoakannya setiap selesai shalat. Ketika kita sudah berusaha tetapi belum juga mendapatkan hasil yang kita harapkan, barulah kita pasrahkan kepadaNya. Kembalikanlah setiap masalah kepada Allah. Janganlah terburu cengeng…sebab dengan mudah cengeng proses pendewasaan diri menjadi terhambat.

Tidak mengenal siapa dirinya
Akibatnya selalu salah dalam pemecahan berbagai persoalan yang menyangkut dirinya . perempuan dan laki-laki yang tidak mengetahui sejarah dirinya sebelum menjadi manusia, saat ia hidup sebagai manusia, dan apa saja yang dihadapinya saat mati, dan berhadapan dengan Tuhan yang menciptakannya, pasti akan selalu salah dalam memandang dirinya. Akibatnya juga akan salah memilih penyelesaian masalah hidupnya, akibatnya juga akan selalu kecewa, sedih kemudian cengeng.
Manusia yang mengenal dirinya dengan baik akan tahu diri sehingga tidak terlalu sombong, tetapi juga tidak berjiwa kerdil menganggap dirinya kecil dihadapan mahluk lain. Dia tidak bisa dibuat sedih oleh mahluk sesama dirinya.

Tidak memiliki tujuan hidup dan sasaran jangka panjang
Akibatnya mudah teombang ambing oleh sasaran jangka pendek. Misalnya kaya raya, jabatan tinggi, dapat berplesir kemana saja yang ia mau. Tatkala apa yang ia inginkan tidak tercapai, ketika tidak mempunyai tujuan hidup yang kekal (akhirat) ia akan cengeng.

Tidak memiliki konsep dan keyakinan yang benar tentang taqdir Allah
Akibatnya sering kecele, karena mengira semua kejadian terjadi dengan sendirinya.
Orang yang beriman kepada kekuasaan Allah atas segala sesuatu, akan memandang semua yang terjadi pada dirinya dan apa yang ada disekitarnya sebagai sebuah scenario yang sedang berjalan.
Ada hal-hal yang bisa diubah dengan ikhtiyar dan doa. Ada hal-hal yang sudah ditetapkan oleh Allah sehinga tidak dapat diubah.
Pertanyaan yang harus dijawab adalah, apa niat yang mendorong sebuah ikhtiyar dan doa ?kalau niatnya untuk memenuhi kebutuhan nafsu dan badan saja, maka bersiplah kecewa, sedih dan bisa cengeng. Tetapi kalau niatnya untuk menjalankan petunjuk Allah, berdasarkan kecintaannya kepadaNya, dijamin tidak akan pernah sedih dan kecewa, karena baginya, semua ketetapan Allah adalah kebaikan . meskipun kadang berat dan menyusahkan.

Maka ingatlah bahwa “CENGENG MENGHAMBAT PROSES PENDEWASAAN DIRI”
“Allahumma ini audzubika minal hammi wal hazan”

Tidak ada komentar: